Laporan Keuangan Model FASB (Financial Accounting Standards Board)

advertisement

Pelaporan keuangan model FASB (Financial Accounting Standards Board) direkayasa untuk kepentingan imvestor, kreditor, dan pihak lain untuk pengambilan keputusan investasi dan kredit. Informasi keuangan yang dapat dilayani oleh pelaporan keuangan (financial reporting) hanya merupakan sebagian jenis informasi yang diperlukan investor dan kreditor. FASB mengidentifikasi lingkup informasi yang dipandang bermanfaat untuk pengambilan keputusan investasi dan kredit sebagai berikut :

  1. Statemen keuangan (financial statement).
  2. Catatan atas statemen keuangan (notes of financial statement).
  3. Informasi dan pelengkap (supplementary information).
  4. Sarana pelaporan keuangan lain (other means of financial reporting).
  5. Informasi lain (other information).

Pengungkapan

Secara konseptual, pengungkapan merupakan bagian yang integral dari pelaporan keuangan. Secara teknis, pengungkapan merupakan langkah akhir dalam proses akuntansi yaitu penyajian informasi dalam bentuk seperangkat penuh statemen keuangan. Evans (2003) mengartikan pengungkapan sebagai berikut :

‘ disclosure means supplying information in the financial statemens, including the statement themselves, the notes to the statements, and the supplementary disclosures associated with the statements made by management or information provided outside the financial statements ‘.

Secara spesifik, Wolk, Tearney, dan Dodd (2001) memberi pengertian tentang pengungkapan sebagai berikut :

‘ broadly interpreted, disclosure is concerned with information in both the financial statements and supplementary communications including footnotes, post statement events, management’s discussion and analysis of operations for the fortcoming year, financial and operating forecasts, and additional financial statements covering segmental disclosure and extentions beyond historical cost ‘.

Pengungkapan sering juga dimaknai sebagai penyediaan informasi lebih dari apa yang dapat disampaikan dalam bentuk statemen keuangan formal. Hal ini tampaknya sejalan dengan gagasan FASB dalam rerangka konseptualnya sebagai berikut (SAFC No. 1, prg. 5) :

‘ although financial reporting and financial statements have essentially the same objectives, some useful information is better provided by financial statements and some is better provided, or can be only be provided, by means of financial reporting other than financial statements ‘.

Masalah teoritis pengungkapan dapat dinyatakan dalam bentuk pernyataan berikut :

  1. Untuk siapa informasi diungkapkan ?
  2. Mengapa pengungkapan harus dilakukan ?
  3. Seberapa banyak dan informasi apa yang harus diungkapkan ?
  4. Bagaimana cara dan kapan mengungkapkan informasi ?

Siapa Dituju

Rerangka konseptual ditujukan terutama untuk investor dan kreditor. Pengungkapan menuntut lebih dari sekedar pelaporan keuangan tetapi meliputi pula penyampaian informasi kualitatif atau non kuantitatif. Karena pihak yang dituju lebih luas dan model pengambilan keputusannya kurang dapat diidentifikasi, pengungkapan cenderung untuk meluas dan jarang menjadi sempit (spesifik).

Fungsi atau Tujuan Pengungkapan

Secara umum, tujuan pengungkapan adalah menyajikan informasi yang dipandang perlu untuk mencapai tujuan pelaporan keuangan dan untuk melayani berbagai pihak yang mempunyai kepentingan berbeda-beda (sesuai kecanggihannya – sophistication).

Karena pasar modal merupakan sarana utama pemenuhan dana dari masyarakat, pengungkapan dapat diwajibkan untuk :

  1. Tujuan melindungi (protective).

Landasan :   tidak semua pemakai cukup canggih sehingga pemakai yang naïf perlu dilindungi dengan mengungkapkan informasi yang mereka tidak mungkin memperolehnya atau tidak mungkin mengolah informasi untuk menangkap substansi ekonomik yang melandasi suatu pos statemen keuangan.

Maksud :   untuk melindungi perlakuan manajemen yang mungkin kurang adil  dan terbuka (unfair).

  1. Tujuan informatif (informative).

Landasan : pemakai yang dituju sudah jelas dengan tingkat kecanggihan tertentu.

Maksud : untuk menyediakan informasi yang dapat membantu keefektifan pengambilan keputusan pemakai tersebut.

  1. Tujuan kebutuhan khusus (differential).

Tujuan ini merupakan gabungan dari tujuan perlindungan public dan tujuan informatif. Apa yang harus diungkapkan kepada public dibatasi dengan apa yang dipandang bermanfaat bagi pemakai yang dituju sementara untuk tujuan pengawasan, informasi tertentu harus disampaikan kepada badan pengawas berdasarkan peraturan melalui formulir-formulir yang menuntut pengungkapan secara rinci.

Keleluasaan dan Kerincian Pengungkapan

Hal ini berkaitan dengan masalah seberapa banyak informasi yang harus diungkapkan yang disebut dengan tingkat pengungkapan (levels of disclosure). Evans (2003) mengidentifikasikan tiga tingkat pengungkapan yaitu :

  1. Memadai (adequate disclosure).

Tingkat memadai adalah tingkat minimum yang harus dipenuhi agar statemen keuangan secara keseluruhan tidak menyesatkan untuk kepentingan pengambilan keputusan yang diarah.

  1. Wajar atau etis (fair of ethical disclosure).

Tingkat wajar adalah tingkat yang harus dicapai agar semua pihak mendapat perlakuan atau pelayanan yang informasional yang sama. Artinya, tidak ada satu pihak pun yang kurang mendapat informasi sehingga mereka menjadi pihak yang kurang diuntungkan posisinya (tidak ada preferensi dalam pengungkapan informasi).

  1. Penuh (full disclosure).

Tingkat penuh menuntut penyajian secara penuh semua informasi yang berpaut dengan pengambilan keputusan yang diarah.

Kendala Pengungkapan

Berbagai hal menjadi pertimbangan penyusun standar atau badan pengawas untuk menentukan seberapa banyak informasi harus diungkapkan. Epstein dan Pava sebagaimana dikutip oleh Evans (2003) menghasilkan temuan berikut :

  1. Investor mendasarkan keputusan investasinya dalam persepektif jangka panjang.
  2. Pengaruh pialang terhadap keputusan makin berkurang.
  3. Pemegang saham ber keyakinan bahwa laporan keuangan makin bermanfaat dibanding sebelumnya.
  4. Statemen aliran kas lebih penting bagi para pemakai daripada statemen laba rugi.
  5. Pendapat auditor makin bermanfaat disbanding sebelumnya.
  6. Diskusi dan analisis manajemen kurang bermanfaat.

Penelitian dapat digunakan sebagai basis untuk mengevaluasi adanya pengungkapan yang berlebihan (redudancies).

Pengungkapan Wajib dan Sukarela

Pengungkapan sukarela (signaling theory) adalah pengungkapan yang dilakukan perusahaan di luar apa yang diwajibkan oleh standar akuntansi atau peraturan badan pengawas. Teori persignalan melandasi pengungkapan sukarela ini. Manajemen selalu berusaha untuk mengungkapkan informasi privat yang menurut pertimbangannya sangat diminati oleh investor dan pemegang saham khususnya kalau informasi tersebut merupakan berita baik.

Pengungkapan sukarela ini merupakan solusi atas kendala pengungkapan secara penuh. Tingkat pengungkapan wajib yang dapat diterapkan dapat diarahkan ke tingkat wajar atau bahkan memadai tidak perlu penuh.

Regulasi Pengungkapan

Perlunya regulasi dalam penyediaan informasi adalah sebagai berikut :

  1. Penyalahgunaan (abuse).
  2. Eksternalitas (externalities).
  3. Asimetri informasi (information asymmetry).
  4. Keengganan manajemen (management reluctance).

Semua regulasi diarahkan untuk mencegah adanya penyalahgunaan dan kecurangan oleh para pelaku pasar modal terutama dalam masalah pengungkapan.

advertisement
Tags:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *