Pengungkapan dan Sarana Interpretif Dalam Pelaporan Keuangan Perusahaan

advertisement

Pengungkapan

Secara konseptual, pengungkapan merupakan bagian yang integral dari pelaporan keuangan. Secara teknis, pengungkapan merupakan langkah akhir dalam proses akuntansi yaitu penyajian informasi dalam bentuk seperangkat penuh statemen keuangan. Evans (2003) mengartikan pengungkapan sebagai berikut :

‘ disclosure means supplying information in the financial statemens, including the statement themselves, the notes to the statements, and the supplementary disclosures associated with the statements made by management or information provided outside the financial statements ‘.

Secara spesifik, Wolk, Tearney, dan Dodd (2001) memberi pengertian tentang pengungkapan sebagai berikut :

‘ broadly interpreted, disclosure is concerned with information in both the financial statements and supplementary communications including footnotes, post statement events, management’s discussion and analysis of operations for the fortcoming year, financial and operating forecasts, and additional financial statements covering segmental disclosure and extentions beyond historical cost ‘.

Pengungkapan sering juga dimaknai sebagai penyediaan informasi lebih dari apa yang dapat disampaikan dalam bentuk statemen keuangan formal. Hal ini tampaknya sejalan dengan gagasan FASB dalam rerangka konseptualnya sebagai berikut (SAFC No. 1, prg. 5) :

‘ although financial reporting and financial statements have essentially the same objectives, some useful information is better provided by financial statements and some is better provided, or can be only be provided, by means of financial reporting other than financial statements ‘.

Masalah teoritis pengungkapan dapat dinyatakan dalam bentuk pernyataan berikut :

  1. Untuk siapa informasi diungkapkan ?
  2. Mengapa pengungkapan harus dilakukan ?
  3. Seberapa banyak dan informasi apa yang harus diungkapkan ?
  4. Bagaimana cara dan kapan mengungkapkan informasi ?

Siapa Dituju

Rerangka konseptual ditujukan terutama untuk investor dan kreditor. Pengungkapan menuntut lebih dari sekedar pelaporan keuangan tetapi meliputi pula penyampaian informasi kualitatif atau non kuantitatif. Karena pihak yang dituju lebih luas dan model pengambilan keputusannya kurang dapat diidentifikasi, pengungkapan cenderung untuk meluas dan jarang menjadi sempit (spesifik).

Fungsi atau Tujuan Pengungkapan

Secara umum, tujuan pengungkapan adalah menyajikan informasi yang dipandang perlu untuk mencapai tujuan pelaporan keuangan dan untuk melayani berbagai pihak yang mempunyai kepentingan berbeda-beda (sesuai kecanggihannya – sophistication).

Karena pasar modal merupakan sarana utama pemenuhan dana dari masyarakat, pengungkapan dapat diwajibkan untuk :

  1. Tujuan melindungi (protective).

Landasan :   tidak semua pemakai cukup canggih sehingga pemakai yang naïf perlu dilindungi dengan mengungkapkan informasi yang mereka tidak mungkin memperolehnya atau tidak mungkin mengolah informasi untuk menangkap substansi ekonomik yang melandasi suatu pos statemen keuangan.

Maksud :   untuk melindungi perlakuan manajemen yang mungkin kurang adil  dan terbuka (unfair).

  1. Tujuan informatif (informative).

Landasan : pemakai yang dituju sudah jelas dengan tingkat kecanggihan tertentu.

Maksud : untuk menyediakan informasi yang dapat membantu keefektifan pengambilan keputusan pemakai tersebut.

  1. Tujuan kebutuhan khusus (differential).

Tujuan ini merupakan gabungan dari tujuan perlindungan public dan tujuan informatif. Apa yang harus diungkapkan kepada public dibatasi dengan apa yang dipandang bermanfaat bagi pemakai yang dituju sementara untuk tujuan pengawasan, informasi tertentu harus disampaikan kepada badan pengawas berdasarkan peraturan melalui formulir-formulir yang menuntut pengungkapan secara rinci.

Keleluasaan dan Kerincian Pengungkapan

Hal ini berkaitan dengan masalah seberapa banyak informasi yang harus diungkapkan yang disebut dengan tingkat pengungkapan (levels of disclosure). Evans (2003) mengidentifikasikan tiga tingkat pengungkapan yaitu :

  1. Memadai (adequate disclosure).

Tingkat memadai adalah tingkat minimum yang harus dipenuhi agar statemen keuangan secara keseluruhan tidak menyesatkan untuk kepentingan pengambilan keputusan yang diarah.

  1. Wajar atau etis (fair of ethical disclosure).

Tingkat wajar adalah tingkat yang harus dicapai agar semua pihak mendapat perlakuan atau pelayanan yang informasional yang sama. Artinya, tidak ada satu pihak pun yang kurang mendapat informasi sehingga mereka menjadi pihak yang kurang diuntungkan posisinya (tidak ada preferensi dalam pengungkapan informasi).

  1. Penuh (full disclosure).

Tingkat penuh menuntut penyajian secara penuh semua informasi yang berpaut dengan pengambilan keputusan yang diarah.

Kendala Pengungkapan

Berbagai hal menjadi pertimbangan penyusun standar atau badan pengawas untuk menentukan seberapa banyak informasi harus diungkapkan. Survei Epstein dan Pava sebagaimana dikutip oleh Evans (2003) menghasilkan temuan berikut :

  1. Investor mendasarkan keputusan investasinya dalam persepektif jangka panjang.
  2. Pengaruh pialang terhadap keputusan makin berkurang.
  3. Pemegang saham berkeyakinan bahwa laporan keuangan makin bermanfaat dibanding sebelumnya.
  4. Statemen aliran kas lebih penting bagi para pemakai daripada statemen laba rugi.
  5. Pendapat auditor makin bermanfaat dibanding sebelumnya.
  6. Diskusi dan analisis manajemen kurang bermanfaat.

Penelitian dapat digunakan sebagai basis untuk mengevaluasi adanya pengungkapan yang berlebihan (redudancies).

Pengungkapan Wajib dan Sukarela

Pengungkapan sukarela (signaling theory) adalah pengungkapan yang dilakukan perusahaan di luar apa yang diwajibkan oleh standar akuntansi atau peraturan badan pengawas. Teori persignalan melandasi pengungkapan sukarela ini. Manajemen selalu berusaha untuk mengungkapkan informasi privat yang menurut pertimbangannya sangat diminati oleh investor dan pemegang saham khususnya kalau informasi tersebut merupakan berita baik.

Pengungkapan sukarela ini merupakan solusi atas kendala pengungkapan secara penuh. Tingkat pengungkapan wajib yang dapat diterapkan dapat diarahkan ke tingkat wajar atau bahkan memadai tidak perlu penuh.

Regulasi Pengungkapan

Perlunya regulasi dalam penyediaan informasi adalah sebagai berikut :

  1. Penyalahgunaan (abuse).
  2. Eksternalitas (externalities).
  3. Asimetri informasi (information asymmetry).
  4. Keengganan manajemen (management reluctance).

Semua regulasi diarahkan untuk mencegah adanya penyalahgunaan dan kecurangan oleh para pelaku pasar modal terutama dalam masalah pengungkapan.

Apa yang diungkap

Telah disebutkan di muka bahwa pengungkapan meliputi satemen keuangan itu sendiri dan semua informasi pelengkap. Penyusun standar dan badan pengawas seperti SEC atau BAPEPEM mengeluarkan ketentuan tentang apa yang harus diungkapkan.

SEC mewajibkan perusahaan publik untuk menyusun dua laporan tahunan. Satu diserahkan kepada SEC untuk memenuhi ketentuan dalam secuties Exchange Act 1934 dan satu lagi untuk keperluan pemegang saham dan pihak eksternal lain.

Dewan penyusun standar, FASB, juga memiliki peran dalam pengungkapan. Beberapa pernyataan standar (SFAS) secara khusus memberi pedoman tentang pengungkapan. Dalam kenyataannya, SEC bekerja sama dengan FASB dan AICPA. Kalau SEC lebih berkepentingan dengan tingkat pengungkapan dan apa yang harus diungkapkan terutama untuk kepentingan pendaftaran publik dan penawaran publik perdana (initial public offering), FASB lebih berfokus pada bagaimana mengungkapkan atau format pengungkapan terutama dalam pelaporan keuangan.

Adanya dua badan pengatur dengan hubungan seperti ini disebut dengan struktur pengaturan ganda (dual regulatory structure). Struktur seperti ini mempunyai beberapa keuntungan bagi SEC yaitu :

  1. dimungkinkan bagi SEC dengan staf terbatas untuk memanfaatkan keahlian dari profesi tanpa harus membayarnya. SEC dapat menggunakan dan mengacu (to endorse) standar profesi sebagai ketentuannya atau tidak memberlakukan (to overrule) suatu standar. Dengan demikian SEC akan berperan sebagai “watch dog”
  2. Badan penyusun standar (FASB) menjadi perisai terhadap kritik yang akan dilayangkan ke SEC seandainya SEC merupakan autoritas tunggal
  3. keberterimaan (acceptability atau acceptedness) suatu peraturan oleh manajemen dan auditor menjadi lebih besar.

Struktur pengaturan di Indonesia kurang lebih sama dengan yang diterapkan di Amerika yaitu struktur pengaturan ganda (IAI dan BAPEPAM). Dalam hal ini, BAPEPAM lebih berkepentingan dengan tingkat pengungkapan dan apa yang harus diungkapkan terutama untuk kepentingan pendaftaran publik dan penawaran perdana. Ketentuan pengungkapan yang diwajibkan oleh BAPEPAM dituangkan dalam bentuk keputusan BAPEPAM.

Beberapa peraturan BAPEPAM yang mengatur pengungkapan

Penawaran umum

Nomor IX.A.8                        prospektus awal dan info memo

Nomor IX.C.2             pedoman mengenai bentuk dan isi prospektus dalam rangka penawaran umum

Nomor IX.C.6             pedoman bentuk dan isi prospektus dalam rangka penawaran umum reksa dana

Nomor IX.C.8             pedoman mengenai bentuk dan isi prospektus dalam rangka penawaran umum oleh perusahaan menengah atau kecil

Nomor IX.C.10           pedoman bentuk dan isi prospektus dalam rangka penawaran umum beragun aset

Pelaporan rutin

Nomor VIII.G.2         laporan tahunan

Nomor VIII.G.7         pedoman penyajian laporan keuangan

Nomor X.K.1              keterbukaan informasi yang harus segera diumumkan kepada publik

Nomor X.K.2              kewajiban penyampaian laporan keuangan berkala

Nomor X.K.4              laporan realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum

Nomor X.K.5              keterbukaan informasi bagi emiten atau perusahaan publik yang dimohonkan pailit.

IAI lebih berfokus pada bagaimana mengungkapkan atau format pengungkapan terutama dalam pelaporan keuangan eksternal. Pengungkapan yang diwajibkan oleh IAI dituangkan dalam berbagai pasal dan tersebar di berbagai pernyataan standar.

Baridwan, Machfoedz, dan Tearney (2001) menyusun standar daftar butir pengungkapan (disclosure shecklist) atas dasar standar akuntansi (PSAK) dan ketentuan BAPEPAM dalam penelitian untuk mengevaluasi tingkat pengungkapan di Indonesia. Daftar butir pengungkapan tersebut digunakan untuk menentukan tingkat ketaatan pengungkapan yang diukur dengan indeks pengungkapan yaitu pengungkapan yang nyatanya dilaksanakan dibanding dengan pengungkapan yang seharusnya (daftar butir pengungkapan).

Untuk tujuan pelaporan keuangan, Hendriksen dan van Breda (1992,hlm.863-871) menunjukkan beberapa pos statemen atau jenis informasi yang memerlukan pengungkapan (forms of disclosure) yaitu :

  1. penjelasan kualitatif atau deskriptif terhadap data kunatitatif yang tertuang dalam statemen keuangan tradisional
  2. prakiraan keuangan (finacial forecast)
  3. kebijakan akuntansi (accounting policies)
  4. perubahan akuntansi (accounting changes)
  5. peristiwa pascastatemen (poststatemen events)
  6. segmen usaha

Berbagai Proposal

AICPA membentuk Komite Jenkins (Jenkins Committee) pada tahun 1991 yang ditugasi untuk mengembangkan model pelaporan yang lebih memenuhi kebutuhan pemakai. Komite ini ditugasi untuk mengajukan rekomendasi tentang karakteristik informasi yang harus disediakan oleh manajemen dan batas-batas auditor harus mengungkapkan berbagai aspek dari informasi tersebut.

Model pelaporan oleh Komite Jenkins

  1. data keuangan dan non-keuangan
  • statemen keuangan dan pengungkapan yang berkaitan
  • data operasi level-atas dan pengukur kinerja yang digunakan secara internal oleh manejemen untuk mengeloloa perusahaan
  • kesempatan dan risiko, terutama yang berkaitan dengan trend kunci
  • rencana manajemen, termasuk faktor sukses kritis
  • perbandingan kinerja perusahaan aktual (realisasi) dengan kesempatan, risiko, dan rencana yang telah diungkapkan sebelumnya
  • direktor, manajemen, compensasi, pemegang saham utama, dan transaksi serta hubungan antar pihak berhubungan istimewa
  • tujuan dan strategi perusahaan
  • lingkup dan deskripsi usaha dan kekayaan
  • dampak struktur industri terhadap perusahaan
  1. alasan untuk perubahan dalam data keuangan maupun non-keuangan dan jenis (identitas) dan efek masa lalu beberapa trend kunci (key trend)
  2. informasi ke depan
  1. informasi tentang manajemen dan pemegang saham
  1. latar belakang tentang perusahaan

Usulan Komite Jenkins ini banyak mengundang kritik, karena keanggotaan komite tidak mencakupi wakil dari regulator (SEC dan FASB) serta pemakai informasi sehingga rekomendasinya dianggap tidak memadai untuk kepentingan pemakai dan publik dan bias untuk memenuhi kepentingan akuntan publik.

Kemudian, William mengusulkan suatu model pengungkapan yang disebut model pelaporan alternatif lima-lapis (a five-layer alternative reporting model) yaitu :

Lapis pertama : pos-pos yang memenuhi kriteria pengakuan yang sama dengan model yang sekarang berlaku (model statemen keuangan sebagai ciri sentral)

Lapis kedua : pos-pos yang memenuhi kriteria pengakuan tetapi bermasalah dalam hal reliabilitas pengukuran seperti merek dagang

Lapis ketiga : pos-pos yang tidak begitu memenuhi kriteria reliabilitas dan definisi seperti kepuasan konsumen

Lapis keempat : pos-pos yang memenuhi kriteria pengukuran, keterandalan,dan keberpautan tetapi tidak memenuhi definisi elemen seperti angka sensitivitas-risiko

Lapis kelima : pos-pos yang tidak memenuhi definisi elemen dan juga tidak dapat diukur secara terandalkan seperti kapital intelektual karyawan.

Model tersebut sebenarnya merupakan penjabaran pengakuan model FASB sebelumnya. Model pengungkapan FASB dalam rerangka konseptualnya sudah dapat dipandang cukup komprehensif dan mantap.

Metode pengungkapan

Metode pengungkapan berkaitan dengan masalah bagaimana secara teknis informasi disajikan kepada pemakai dalam satu perangkat statemen keuangan beserta informasi lain yang berpaut. Informasi dapat disajikan dalam pelaporan keuangan sebagai antara lain pos statemen keuangan, catatan kaki (catatan atas statemen keuangan), penggunaan istilah teknis (terminologi), penjelasan dalam kurung, lampiran, penjelasan auditor dalam laporan auditor, dan komunikasi manajemen dalam bentuk surat atau pernyataan resmi.

Pos statemen keuangan

Informasi keuangan dapat diungkapkan melalui statemen keuangan dalam bentuk pos atau elemen statemen keuangan sesuai dengan standar tentang definisi, pengukuran, penilaian, dan penyajian (jenis statemen, format statemen, klasifikasi pos, dan susunan pos). Jenis statemen meliputi neraca, statemen laba rugi,  dan statemen perubahan ekuitas, dan statemen aliran kas. PSAK No.1 pasal 39 dan 44 misalnya menetapkan pengungkapan pos-pos neraca sebagai berikut

39 perusahaan menyajikan aktiva lancar terpisah dari aktiva tidak lancar dan kewajiban jangka pendek terpisah dari kewajiban jangka panjang kecuali untuk industri tertentu yang diatur dalam SAK khusus. Aktiva lancar disajikan menurut ukuran likuiditas sedangkan kewajiban disajikan menurut urutan jatuh tempo.

Catatan kaki

Catatan kaki atau catatan atas statemen keuangan merupakan metode pengungkapan untuk informasi yang tidak praktis atau tidak memenuhi kriteria untuk disajikan dalam bentuk pos atau elemen statemen keuangan. Contohnya dalam PSAK No.1 pasal 65 dan 69 sbb:

65 Perusahaan mengungkapkan dalam laporan laba rugi atau dalam catatan atas laporan keuangan; jumlah dividen per saham yang diumumkan.

69 Catatan atas laporan keuangan harus disajikan secara sistematis. Setiap pos dalam neraca, laporan laba rugi dan laporan arus kas harus berkaitan dengan informasi yang terdapat dalam catatan atas laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan mengungkapkan:

a. informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi yang dipilih dan diterapkan terhadap peristiwa dan transaksi penting

b. informasi yang diwajibkan dalam PSAK tetapi tidak disajikan dalam neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan perubahan ekuitas.

c. informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keuangan tetapi diperlukan dalam rangka penyajian secara wajar.

Catatan kaki harus disajikan secara sistematis maksudnya adalah bahwa catatan kaki harus diberi indeks yang jelas dan teratur sehingga memudahkan pengacuan.

Catatan kaki harus digunakan dengan penuh kearifan karena memang ada keunggulan dan kelemahan.

Keunggulan catatan kaki adalah :

  1. mengungkapkan informasi nonkuantitatif tanpa harus mengganggu penyajian utama dalam statemen keuangan
  2. mengungkapkan kualifikasi (pengecualian) dan pembatalan pos-pos tertentu dalam statemen keuangan
  3. mengungkapkan rincian pos-pos tertentu yang dianggap penting tanpa mendistraksi jumlah total suatu pos atau tanpa mengganggu susunan penyajian pos-pos dalam statemen
  4. mengungkapkan hal-hal yang bersifat kuantitatif atau deskriptif yang tidak memenuhi kriteria pengakuan tetapi penting untuk disampaikan atau yang mempunyai arti penting sekunder.
  5. mempertahankan statemen keuangan sebagai ciri central pelaporan keuangan dengan ringkas dan jelas meskipun catatan kaki merupakan bagian integralnya

kelemahan catatan kaki adalah sebagai berikut :

  1. diperlukan ketekunan untuk memahami isi catatan kaki
  2. catatan kaki kurang menjelaskan sendiri (self-explanatory) dibanding penyajian pos dalam statemen keuangan
  3. kompleksitas perusahaan cenderung menempatkan catatan kaki menjadi sasaran atau fokus pelaporan daripada statemen keuangan itu sendiri
  4. catatan kaki sering dijadikan substitusi untuk menyajikan suatu informasi sebagai pos statemen keuangan
  5. cacatan kaki dapat membingungkan pembaca kalau isinya menegasi atau berlawanan dengan apa yang disajikan dalam statemen keuangan.

Penjelasan dalam kurung

Penjelasan singkat berbentuk tanda kurung mengikuti suatu pos dapat dijadikan cara untuk mengungkapkan informasi. Yang dapat disajikan dalam tanda kurung adalah metode akuntansi, makna suatu istilah, ketermasukkan suatu unsur, penilaian alternatif, dan acuan (misalnya skedule)

Contoh : sediaan barang (pasar Rp 540.000)     ……………………..Rp 500.000

Piutang wesel (diskunan Rp 100.000) ……………………..Rp 700.000

Kegunaan lain penjelasan dalam kurung :

  • Untuk hal-hal yang bersifat klarifikasi.
  • Untuk sekadar menambah informasi.
  • Sekadar memuat referensi atau acuan ke tabel, rincian, atau lampiran tertentu.

Istilah Teknis

Istilah teknis dan strategik merupakan bagian dari pengungkapan. Istilah yang tepat harus digunakan secara konsisten utnuk nama pos, elemen, judul, atau subjudul. Nama elemen merupakan hal yang sangat strategik karena merupakan objek penting dalam akuntansi. Yang perlu diperhatikan dalam istilah teknis, sbb:

  • Cara mengungkapkan konsep atau pengertian yang kompleks dalam suatu istilah khusus disiplin pengetahuan.
  • Sebaiknya tidak mengandung kesalahan makna.
  • Kewajiban pendidikan untuk mengenalkan dan menjelaskan istilah teknis yang tepat.

Lampiran

Rincian, statemen tambahan, daftar rincian atau semacamnya dapat disajikan sebagai lampiran atau disajikan dalam seksi lain yang terpisah dengan statemen utama.. jadi, penggunaan lampiran merupakan salah satu metode pengungkapan.

Komunikasi manajemen

Sarana untuk menyampaikan apa yang menjadi visi, ambisi, dan berbagai gagasan atau penjelasan dari pihak manajemen yang tidak mungkin disampaikan via statemen keuangan. Komunikasi manajemen secara resmi dapat disampaikan bersamaan dengan penerbitan laporan tahunan dalam bentuk surat ke pemegang saham laporan dewan komisaris, laporan direksi, dan diskusi dan analisis manajemen (DAM). DAM diharapkan berisi antara lain hal-hal berikut ini :

  1. analisis tentang perubahan hasil operasi terutama laba rugi, laba kotor penjualan dan biaya administrasi/pemasaran
  2. analisis tentang likuiditas, sumber pendanaan, penggunaan pinjaman serta analisis investasi
  3. harapan manajemen masa datang tentang kondisi politik, sosial, dan ekonomi dan hal-hal yang mungkin terjadi akibat ketidakpastian kondisi sekarang.
  4. tanggapan dan harapan manajemen terhadap kejadian atau perubahan nonfinancial yang mempengaruhi operasi manajemen
  5. rencana-rencana perubahan kebijakan penting di masa datang
  6. rencana pengeluaran kapital serta riset dan pengembangan
  7. analisis statemen keuangan yang diwujudkan dalam bentuk ratio dan trend beserta interprestasinya

Catatan Dalam Laporan Auditor

Pengungkapan auditor yang dianggap penting dan bermanfaat adalah pengungkapan informasi yang berkaitan dengan hal-hal yang menghalangi auditor untuk menerbitkan laporan auditor bentuk standar (pendapat wajar tanpa syarat).

Pengungkapan oleh auditor pada umumnya berkaitan dengan antara lain sbb:

  1. perubahan akuntansi dan konsistensi
  2. keraguan tentang kelangsungan perusahaan
  3. persetujuan atas penyimpangan dari PABU
  4. penekanan suatu hal dalam statemen atau kejadian
  5. pengaitan nama auditor dengan statemen keuangan takauditan
  6. statemen keuangan komparatif yang salah satu diaudit auditor lain
  7. pembatasan lingkup audit dan independensi auditor

‘ Pengungkapan dan Sarana Interpretif ‘

Pelaporan keuangan model FASB direkayasa untuk kepentingan imvestor, kreditor, dan pihak lain untuk pengambilan keputusan investasi dan kredit. Informasi keuangan yang dapat dilayani oleh pelaporan keuangan (financial reporting) hanya merupakan sebagian jenis informasi yang diperlukan investor dan kreditor. FASB mengidentifikasi lingkup informasi yang dipandang bermanfaat untuk pengambilan keputusan investasi dan kredit sebagai berikut :

  1. Statemen keuangan (financial statement).
  2. Catatan atas statemen keuangan (notes of financial statement).
  3. Informasi dan pelengkap (supplementary information).
  4. Sarana pelaporan keuangan lain (other means of financial reporting).
  5. Informasi lain (other information).

Kos dan Nilai

Dalam kondisi yang normal kos yg terjadi dapat dianggap menyatakan nilai pasar (market value) suatu sumber ekonomik pada saat ia dibeli atau diperoleh. Nilai ada;ah persepsi orang terhadap manfaat atau utilitas suatu objek yang dinyatakan dalam satuan pengukur (biasanya unit moneter). Pada awalnya kos dan nilai adalah identik. Dengan berlalunya waktu, nilai suatu sumber ekonomik dapat berubah sebagaimana ditunjukkan oleh kos yg berlaku sekarang (current input cost) atau harga pasar sumber ekonomik yang sama. Bila hal ini terjadi maka kos tercatat (actual cost) yg melekat pada suatu sumber ekonomik menjadi tidak relevan lagi. Oleh karena itulah, timbul gagasan untuk mengganti kos tercatat (recorded cost) dengan basis lain dalam sistem akuntansi.

Argumen Pendukung

Argumen utama pendukung gagasan tersebut adalah keberpautan keputusan sebagai salah satu kualitas informasi baik untuk kepentingan manjemen maupun pihak luar. Untuk kepentingan manjemen, perhitungan laba tiap periode hendaknya mencerminkan dengan jelas perubahan ekonomik penting termasuk rugi (losses) dan untung (gains) yg belum terealisasi yg terjadi akibat penurunan dan kenaikan nilai faktor-faktor jasa yg masih belum digunakan.

Argumen Penyanggah

Paton dan Littleton (1970) berpendapat bahwa adanya perubahan nilai tidak berarti bahwa rerangka akuntansi pokok berbasis kos tidak lagi bermanfaat sehingga harus diganti.

Keterandalan Data

Penggantian kos dengan nilai taksiran biasanya akan menghasilkan penyajian angka laba yang kurang dapat dipercaya. Pergeseran kos dengan nilai taksiran akan mengakibatkan statemen laba rugi yg kurang memuaskan dtinjau dari sudut yuridis dibandingkan dengan laporan yang disusun atas kos historis. Maksudnya, auditor tidak mempunyai basis yg kuat untuk menunjukkan bahwa angka akuntansi merupakan angka kesepakatan yg timbul dari berbagai kontrak sebagai bukti audit.

Saling Kompensasi Antarperioda

Karena kompensasi kenaikan atau penurunan kos operasi total akibat penyesuaian kos faktor jasa tertentu (menjadi nilai pengganti) yg dibebankan keperiode sekarang. Penggunaan nilai pengganti akan tidak praktis dan kurang manfaatnya. Penggantian angka kos ini sama sekali percuma ditinjau dari sudut pandangan pengukuran laba bersih periodik, karena dalam jangka panjang penyesuaian ke kos pengganti akan netral. Bila kos pengganti toh tetap akan diterapkan maka hal terbaik yg masih dapat diterima adalah suatu revaluasi faktor-faktor jasa yg belum dikonsumsi pada akhir periode saja bukannya revisi terus-menerus pada tiap terjadi perubahan nilai dalam buku besar. Kalau keadaan memang mendesak sehingga penilaian kembali tersebut jelas-jelas bermanfaat dan diperlukan maka pemecahan yg masuk akal adalah tetap menggunakan akuntansi konvensional dan melengkapinya dengan informasi tambahan yg menunjukkan pengaruh perubahan harga yg melekat pada faktor jasa yg belum dikonsumsi (unexpired).

Fluktuasi Nilai Merupakan Gejala Umum

Paton dan Littleton lebih jauh mengemukakan bahwa kalau perubahan akibat fluktuasi harga harus dimuat dalam statemen keuangan, akan lebih baik kalau pengaruh tersebut diperlakukan sebagai pos khusus atau terpisah (special item) dan bukannya disesuaikan langsung ke data dasar (kos) dalam buku besar tanpa penjelasan apapun.

Nilai Pasar dan Posisi Keuangan

Dalam neraca ditunjukkan bahwa harga pasar dalam sebuah tanda kurung apabila harga pasar tersebut dapat ditentukan secara cukup meyakinkan tanpa harus terus-menerus melakukan revisi terhadap kos tercatat mengikuti fluktuasi harga pasar. Pencatatan kos harus dipertahankan untuk tujuan menentukan laba-rugi dalam hal surat berharga tersebut ditukar atau dijual.

Simpulan

Penekanan pada kos historis atau aktual sebagai dasar pencatatan tidak berarti menolak sama sekali adanya kelayakan dan manfaat untuk mengadakan reorganisasi modal (financial reorganization) dan untuk menyesuaikan kembali aset, kewajiban, dan ekuitas bilamana hal ini diperlukan. Akuntansi konvensional tidak menolak bahwa data selain data kos historis mempunyai arti penting, akan tetapi yg memberatkan adalah revisi kos merupakan bagian rerangka akuntansi pokok. Kalau menggeser nilai kos historis sebagai rerangka akuntansi pokok, hal ini akan berakibat penyembunyian bahkan penghilangan data yg diukur secara paling objektif dan dapat diandalkan yaitu kos yg telah terjadi. Masalah revisi kos yg paling kritis adalah kalau ia dihubungkan dengan sumber ekonomik terutama sediaan dan fasilitas fisis (plant assets).

Revisi Kos Fasilitas Fisis

Dalam beberapa hal khusus, penilaian kembali fasilitas fisis yg berakibat revisi terhadap kos tercatat tidak dapat dihindari. Beberapa hal khusus yg menghendaki penilaian kembali antara lain adalah:

  1. Perusahaan akan dibeli sehingga terjadi penggantian hak milik atau perubahan entitas yg menghendaki pencatatan aset pada nilai perusahaan baru berdiri (fresh start).
  2. Kuasi-reorganisasi untuk penyerapan defisit.
  3. Penggadaian aset yg menghendaki penilaian untuk menentukan nilai gadai.
  4. Peraturan pemerintah yg mengharuskan revaluasi.
  5. Terjadinya musibah yang menghendaki penilaian untuk keperluan ganti rugi asuransi.
  6. Penilaian aset untuk keperluan penentuan nilai asuransi aset (insurance coverage).
  7. Penilaian nilai aset untuk keperluan penetapan pajak.

Tidak semua hal diatas harus diikuti dengan revisi kos atau nilai buku. Revisi kos hanya dilakukan bila penilaian tersebut berkaitan dengan pelaporan aset fisis dalam pelaporan keuangan.

Alasan Pendukung Revisi

Alasan yang mendukung revisi kos aset tetap secaqra umum bersandarkan pada alasan yg dikemukakan dalam akuntansi berbasis nilai. Berikut ini adalah beberapa alasan yg sering diajukan untuk mendukung revisi.

Distorsi Informasi Ekonomik

Hal ini biasanya terjadi ketika kos tercatat menghasilkan biaya yg tidak efektif atau yg secara ekonomik tidak bermanfaat sehingga mendistorsi daya melaba (earning power) yg sesungguhnya.

Distorsi Akumulasi Dana Penggantian

Menurut akuntansi depresiasi atas dasar kos historis selama periode tongkat harga-harga barang menurun akuntansi depresiasi atas dasar kos historis cenderung cenderung menghasilkan dana berlebihan untuk tujuan penggantian (disnilah letak distorsi tersebut). Pemecahan terbaik untuk masalah ini adalah menghitung biaya depresiasi atas dasar nilai pengganti sekarang (current replacement cost).

Alasan penyanggah

Revisi terus menerus tidak praktis

Dalam menentukan praktis atau tidaknya dilakukan penilaian kembali fasilitas fisis terutama jika terdapat ketidakpastian akan jumlah rupiah depresiasi itu sendiri yang akan dibebankan ke perioda tertentu

Hasil penilaian tidak meyakinkan

Nilai pengganti fasilitas fisis yang kompleks akan menghasilkan nilai taksiran yang dalam banyak hal tidak dapat diandalkan

Depresiasi bukan akumulasi dana

Depresiasi harus didasarkan atas nilai pengganti untuk menjamin pengumpulan dana yang cukup untuk mengganti nilai fasilitas fisis pada saat umur ekonomisnya habis.

Pengurangan nilai buku fasilitas fisis

Pengurangan dapat dilakukan bila suatu kondisi menyebabkan terjadinya penurunan kemampuan aset untuk mendatangkan laba atau kas di masa datang. Indikasi penurunan kemampuan suatu aset yaitu bila nilai bukunya melebihi dari jumlah rupiah atau jumlah terperoleh kembali.

Konversi kos ke rupiah daya beli

Karena daya beli dianggap stabil, kerangka akuntansi pokok atas dasar kos historis sering diabaikan manfaatnya. Satuan uang sebagai pengukur bahan olah akuntansi tidak stabil daya belinya. Artinya, kos tercatat yang merupakan jumlah rupiah kesepakatan akan berbeda dalam dua titik waktu yang berbeda kalau dinyatakan dalam tingkat harga umum yang berlaku pada dua waktu tersebut. Sebagai konsekuensi, kos historis yang diukur dengan daya beli pada saat tertentu dapat menyesatkan.

advertisement
Tags:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *