Resensi Buku: Revolusi Kaum Napi (Catatan Kesaksian Anton Medan)

advertisement

Sebut nama Anton Medan, maka semua orang mengenalnya. Seorang Cina perampok kelas kakap, penjudi sekaligus pengusaha judi kelas berat, dan raja preman. Tapi itu dulu, era tahun 80-an. Sekarang orang lebih mengenalnya sebagai Cina muslim taat, juru dakwah, pemimpin pesantren, dan pengusaha sukses. Mantan napi yang bertobat. Boleh dibilang begitu.

Dengan tebal 219 halaman, buku Revolusi Kaum Napi ini dibuka dengan kisah masa kecil Kok Lien alias Tan Hok Lian alias Anton Medan. Datang dari keluarga Cina yang kurang mampu, Anton Medan tidak pernah mengenyam pendidikan formal. Petualangannya sebagai anak jalanan dimulai di terminal bis Tebing Tinggi. Pada umur 13 tahun ia berurusan dengan polisi karena menganiaya seorang supir bis yang menolak memberikan upah atas jasanya mencarikan penumpang. Keberanian Kok Lien membuat ia tampil sebagai seorang Cina yang “berbeda” dan namanya mulai dikenal di lingkungan terminal, sehingga tak susah baginya untuk melanjutkan petualangan ke Terminal Medan. Perkelahian dengan preman terminal membawanya masuk  penjara selama 4 tahun. Keluar dari penjara, ia “terbang” ke Jakarta dan merintis karirnya sebagai perampok. Dalam sekejap ia menjadi terkenal karena namanya selalu terkait dengan aksi penjambretan, perampokan toko mas, pencurian sepeda motor, peredaran obat terlarang, hingga perkelahian antar geng. Anton benar-benar menjadi raja dan simbol kekuasaan kejahatan di masanya.

Penangkapannya oleh polisi yang berujung pada LP Cipinang ternyata tidak menyurutkan kekuasaan Anton. Penegakan hukum di Indonesia yang bobrok dengan mudah dimanfaatkan oleh Anton. Dari dalam penjara ia bisa melempar teman-temannya yang menuntut pembagian hasil rampokan ke berbagai penjara, leluasa masuk keluar LP, hingga mengatur pembebasan seseorang. Setelah bebas dari penjara, ia  membekingi usaha-usaha judi agar tidak terbongkar dan membuka usaha judi skala besar. Institusi hukum, keamanan, pers, hingga preman berada di dalam genggamannya karena uang Anton Medan bisa membeli semuanya. Hobinya berjudi kemudian membuatnya bangkrut, dan ia memutuskan untuk mengabdikan diri di masyarakat dengan menjadi Ketua RW di lingkungan tempat tinggalnya. Ia ingin membuktikan  bahwa dirinya berguna, dan ia berhasil.

Pada bab Tempat Gelaplah Yang Perlu Cahaya, kita diajak menelusuri keIslaman Anton Medan. Adalah K.H. Zainuddin MZ yang menjadi motivator utama Anton untuk menjadi muslim, walaupun keinginan memeluk Islam telah muncul saat ia berada di dalam penjara. Setelah berhaji, ia mendirikan majelis ta’lim At-Taibin, yang dikhususkan untuk menampung mantan napi-napi yang ingin bertobat. Para napi itu diberdayakan di berbagai macam usaha miliknya, seperti pembuatan spanduk dan peternakan ayam. Ia aktif berdakwah di berbagai LP, lokalisasi, dan komunitas bermasalah lainnya. Lambat laun, ia juga menjadi narasumber berharga bagi seminar, lokakarya, perkuliahan, dan agenda akademis lainnya.

Dalam bab Di Antara Tarikan-Tarikan, pembaca dapat dibuat tercengang atas fakta-fakta yang terjadi pada kerusuhan Mei 1998 dan lengsernya Soeharto. Selain itu, Anton Medan sedikit banyak juga mengetahui kasus menghebohkan tentang buronnya Tommy Soeharto dan ‘penyingkiran’ Gus Dur. Anton Medan ternyata juga sosok yang gigih, baik dalam membina santri-santrinya hingga membasmi judi di Indonesia. Uraian dalam bab Dari Ternak Kambing Sampai Investigasi menunjukkan itikad baik Anton Medan untuk membasmi judi, yang sayangnya tidak disambut positif oleh aparat penegak hukum. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kepolisian dan pejabat negara sering menerima “bantuan” dari seorang pengusaha kontroversial, demi memuluskan lokalisasi perjudian.

Membaca jalan hidup Anton Medan berarti membuka mata kita akan premanisme yang hidup bukan hanya dalam masyarakat, tetapi juga dalam pemerintah. Seakan kekerasan telah menjadi budaya bangsa kita. Kedengarannya terasa sangat mengganggu, tetapi kenyataan telah menunjukkan begitu. Bangsa kita ternyata sangat akrab dengan budaya semacam ini.

Premanisme dalam suatu masyarakat mencerminkan kekurangberdayaan dan kekurangbudayaan masyarakat dan pemimpin. Masyarakat yang kurang berbudaya lebih menyukai kekerasan. Menyelesaikan suatu masalah lebih mudah dengan menekan, meneror, dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya. Partai politik punya preman, pejabat punya preman, tentara dan polisi memelihara preman, demikian pula pengusaha, artis, bandar judi, hingga germo. Semakin banyak pihak yang membutuhkan preman, yakni sekelompok orang yang menjual jasa kekerasan.

Maka jangan heran jika Indonesia menjadi negara preman. Istilah dari free man  yang secara harfiah berarti orang-orang bebas. Bebas melakukan apa yang disenangi tanpa ada batasan. Sikap inilah yang kemudian diadopsi oleh masyarakat hukum di Indonesia. Walaupun bukan seorang preman, seseorang dengan mudah dapat terjangkiti premanisme. Seorang teman berwarga negara Amerika Serikat pernah mengatakan bahwa Indonesia is a lawless country. Dapatkah kita menyangkalnya bila memang pada kenyataannya hukum di Indonesia itu “mati” dan mudah dipermainkan? Seorang Anton Medan dengan mudah memainkannya. Itu  baru satu Anton Medan. Bagaimana dengan yang lainnya?

Pertanyaan yang patut kita lemparkan kini adalah mengapa kekerasan dan penekanan tidak diberdayakan untuk menegakkan hukum dan undang-undang. Bukankah hukum itu dinamakan hukum karena memiliki sanksi dan kekuatan memaksa? Mengapa masyarakat lebih memilih jalan kekerasan untuk menyelesaikan sengketa-sengketa ataupun konflik-konflik dan bukannya proses hukum yang sehat? Mengapa masyarakat lebih memilih mengadopsi ajaran hukum menurut preman daripada mengadopsi ajaran hukum menurut Undang-undang? Mengapa aparat keamanan dan institusi hukum yang ada tidak dipercaya masyarakat?

Kaum idealis yang begitu percaya akan teori hukum secara text-book mungkin akan terkaget-kaget dan akan membantah kesaksian Anton Medan mengenai potret buram hukum di Indonesia, terutama bila membaca pada bab Revolusi Kaum Napi. Pada bab ini, baik Anton Medan maupun Kafil Yamin percaya bahwa sekarang adalah saaat yang tepat untuk revolusi kaum napi, prakondisi untuk pertobatan nasional. Kaum At-Taibin sedang dalam konsolidasi untuk membuat pergerakan politik besar di tahun 2009. Namun bagi Anda yang ingin tahu tentang law in action di negara kita, ada baiknya Anda membaca buku ini. Tentunya dengan harapan bahwa bias antara teori dan kenyataan di lapangan harus dapat menjadi pelajaran yang dapat diambil hikmahnya, untuk kemudian diperbaiki.

Buku ini ringan, dalam artian mudah dipahami. Kafil Yamin, sang penulis, menyajikan tulisan tentang Anton dalam bentuk dialog-dialog. Kalimat-kalimat maupun cara berpikir ‘ala napi’ sangat terasa karena memang Kafil Yamin menginginkan agar ‘semangat dan roh’ Anton Medan benar-benar mengisi buku ini. Namun ada sedikit yang mengganggu, yaitu susunan teks, penggunaan tanda baca, maupun penggunaan huruf kapital yang terkadang terasa tidak pas. Seakan-akan buku ini belum diedit ketika naik cetak. Pun, pengungkapan-pengungkapan fakta di dalam buku ini kurang menyertakan kesaksian dari pihak dan tokoh lain yang terlibat, sehingga mungkin akan menimbulkan keraguan di benak pembaca akan keakuratannya.

Bagaimanapun juga, kisah perjalanan hidup Anton Medan benar-benar menarik untuk disimak. Semua yang dialami Anton Medan dalam hidupnya telah menunjukkan kepada kita bahwa apa yang seharusnya “baik” menurut hukum ternyata tidaklah selalu baik, demikian pula dengan yang buruk.

advertisement
Tags:, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *