Tugas Terstruktur I: Pengantar Filsafat Logika

advertisement

Ada dua macam pengetahuan, yaitu pengetahuan khusus dan pengetahuan umum. Pengetahuan khusus itu mengenai yang khusus, satu persatu, berubah- ubah dan dari sebab itu tidak tetap, sedangkan pengetahuan umum mengenai yang umum, jadi seluruh macamnya, tidak satu persatu, sifatnya tetap, jadi tidak berubah- rubah.dari dua macam pengetahuan tersebut diatas akhirnya timbul suatu persoalan, pengetahuan manakah yang benar, yang sesuai obyeknya?

Herakleitos (535 – 475 ), Ia berpendapat bahwa segala sesuatunya pada alam itu berubah dan bergerak seperti api. Kemudian ditarik kesimpulan, bahwa yang menjadi keterangan sedalam- dalamnya bagi alam ialah gerak. Tak adalah sesuatu yang tetap, semuanya, apapun bergerak dan berubah, menjadi, lewat tak ada yang sesaatpun sama. Itu dirumuskan dengan ungkapan yang mashur itu : ‘panta rei’, artinya: semua mengalir. Bagi herakleitos satu- satunya realistis adalah perubahan.

Parmenides (540 – 475) dilahirkan die lea. Ia mengakui adanya dua pengetahuan, baik yang khusus maupun yang umum. Pengetahuan khusus (indra) itu bukan pengetahuan sebenarnya, karena indra itu tak dapat dipercayai. Menurut Permenides pengetahuan yang benar hanyalah pengetahuan yang umum, yang disebutnya pengetahuan budi. Pengetahuan budi yang tetap ini memang sesuai dengan obyeknya, sebab aloam ini tetap, yang terdapat ialah ada, bukan menjadi, perubahan itu hanya nampaknya saja, sebenarnya: adalah. Sebab apakah yang terdapat diluar ada, bukanlah hanya tiada belaka (nihil mutlak).

Plato (427 – 347). Dalam hal ini ia amat tertolong oleh gurunya, sokrates (469 – 399) yang amat mementingkan pengamatan. Haruslah mengamat- amati hal yang hendak kita ketahui sebaik- baiknya akan menimbulkan pengetahuan sejati, yaitu pengetahuan yang benar yang sifatnya tetap dan berlaku umum. Socrates tidak mengingkari nilai dan kebenaran pengamatan, ia malahan mengatakan bahwa pengamatan melalui indra itu merupakan jalan untuk mencapai pengetahuan yang disebutnya sejati itu. Pengamatan ini memang amat penting bagi socrates dan ini menjadi pegangan teguh bagi plato.

Lain lagi penyelesaian yang diberikan oleh murid plato yang bernama aristoteles (384 – 322). Menurut aristoteles memang ada dua macam pengetahuan. Iapun menerima adanya idea, akan tetapi lain sekali dengan pendapat plato. Ia berpangkal pada dunia ini. Menurut dia yang sungguh ada (realitas) adalah yang konkrit, yaitu hal yang satu per satu dengan sifat- sifatnya yang tertentu. Seluruh dunia itu merupakan realitas, bukanlah itu idea yang terdapat pada dunianya sendiri. Dunia idea itu menurut aristoteles tak ada. Adapun hal yang konkrit itu mempunyai dua macam sifat, yaitu sifat- sifat yang melainkan dari yang lain, tetapi ada juga sifat- sifat yang menyamakan dengan yang lain.sehingga beberapa hal mungkin dimasukkan dalam satu macam.

Rene decrates (1596 – 1650) mencoba merintis jalan (metodos) guna mencapai kepastian dalam pengetahuan pada umumnya. Ungkapannya yang amat termasyur ialah cogito, ergo sum yang artinya aku berpikir, maka adalah aku decrates disebut sebagai bapak aliran rasionalisme.

Ahli pikir inggris david Hume (1711 – 1776) menyatakan bahwa pengetahuan adalah substansi dari persentuhan antara indra dengan obyek. Kemudian dilakukan penyelidikan oleh Immanuel kant (1724 – 1804) dalam bukunya “kritik der reinen vernunfi” disebut teori kritisme, menyatakan bahwa pengamatan adalah syarat mutlak bagi pengetahuan yang diolah manusia menjadi pengetahuan khusus dalam waktu dan ruang yang mungkin menjadi pengetahuan umum. Sebagai ahli piker yang mencoba mengadakan sintesis dalam hal pengetahuan, kant berpengaruh besar terhadap filsafat tetapi bukan pada masalah kebenaran pengetahuan tetapi lebih pada obyek dari pengetahuan.

Idealisme yang berkembang di jerman diutarakan oleh filsuf J.G. ficte (1762 – 1814) mengatakan bahwa sebenarnya yang ada itu subyek yang berpikir itu berhadapan dengan bukan aku sebagai obyek. Tetapi obyek itu tidak bergantung kepada subyek berpikir. F.W.J. schelling (1775 – 1854) berpendapat bahwa subyek dan obyek (alam) adalah sama (satu). G.W.T. Hegel mengakui bahwa idea, itu ada dan sama.

Menurut pemikiran A. Comte kekeliruan rasionalisme yang mula- mula hanya mengakui kebenaran yang terang benderang saja dan dalam ilmu hanya mengakui kebenaran yang dapat diakui secara pasti dan positif. Cara mendekati hal inilah yang mebjadi dasar pemikiran aliran positivisme. Masa setelah kant ini belum memberi penyelesaian terhadap soal hebat mengenai pengetahuan, karena pendapat ahli piker tentang alam sebagai objek pengetahuan sangat bertentangan. Oleh karena sekarang ini yang dipersoalkan ada tidaknya obyek itu, maka aliran ini memperoleh nama idealisme di satu pihak dan realisme belaka atau materialisme di pihak lain.

Oleh karena itu maka lambat laun timbullah aliran yang menamai dirinya realisme kritis, artinya mengakui realitas sepenuhnya, baik yang berlaku umum maupun yang khusus. Memang dunia pengamatan yang beraneka ragam coraknya ini realistis, sungguh ada. Tidak semuanya yang nampak kepada kita itu sesungguhnya ada, tetapi juga salah, jika dikatakan bahwa yang nampak itu khayal belaka.

Husserl yang disebut orang sebagai bapak fenomenologi memaparkan cara mengenal melalui gejala (fenomenon). Sebab yang dimaksud dengan fenomenon adalah hubungan kesadaran manusia dengan obyek di luar kesadaran itu. Fenomenologi Husserl ini banyak pengaruhnya terhadap ilmu dan filsafat sesudahnya. Cara pengamatan dan penelitian obyek terkenal dengan metodos fenomenologis. Di sini menurut Husserl ada kerjasama antara subyek dan obyek daripada itu dalam pengenalan ada factor subyektif juga.

Bahwa kebenaran itu hanya terdapat pada kegunaannya saja sebagai dimajukan oleh penganut faham pragmatisme, seperti misalnya William james dan kemudian john dewey yang mengajukan ukuran kebenaran bukan lagi persesuaian pengetahuan dengan objeknya, melainkan kegunaan dari hasil tahu itu.

advertisement

Leave a Reply

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *